BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS »

Minggu, 06 Februari 2011



Raden Adjeng Kartini adalah seseorang dari kalangan priyayi atau kelas bangsawan Jawa, putri Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, bupati Jepara. Ia adalah putri dari istri pertama, tetapi bukan istri utama. Ibunya bernama M.A. Ngasirah, putri dari Nyai Haji Siti Aminah dan Kyai Haji Madirono, seorang guru agama di Telukawur, Jepara.

       Ayah Kartini pada mulanya adalah seorang wedana di Mayong. Peraturan kolonial waktu itu mengharuskan seorang bupati beristerikan seorang bangsawan. Karena M.A. Ngasirah bukanlah bangsawan tinggi[2], maka ayahnya menikah lagi dengan Raden Adjeng Woerjan (Moerjam), keturunan langsung Raja Madura. Setelah perkawinan itu, maka ayah Kartini diangkat menjadi bupati di Jepara menggantikan kedudukan ayah kandung R.A. Woerjan, R.A.A. Tjitrowikromo.
       Kartini adalah anak ke-5 dari 11 bersaudara kandung dan tiri. Dari kesemua saudara sekandung, Kartini adalah anak perempuan tertua. Kakeknya, Pangeran Ario Tjondronegoro IV, diangkat bupati dalam usia 25 tahun. Kakak Kartini, Sosrokartono, adalah seorang yang pintar dalam bidang bahasa. Sampai usia 12 tahun, Kartini diperbolehkan bersekolah di ELS (Europese Lagere School). Di sini antara lain Kartini belajar bahasa Belanda. Tetapi setelah usia 12 tahun, ia harus tinggal di rumah karena sudah bisa dipingit.
Karena Kartini bisa berbahasa Belanda, maka di rumah ia mulai belajar sendiri dan menulis surat kepada teman-teman korespondensi yang berasal dari Belanda. Salah satunya adalah Rosa Abendanon yang banyak mendukungnya. Dari buku-buku, koran, dan majalah Eropa, Kartini tertarik pada kemajuan berpikir perempuan Eropa. Timbul keinginannya untuk memajukan perempuan pribumi, karena ia melihat bahwa perempuan pribumi berada pada status sosial yang rendah.

Kartini bersama suaminya, R.M.A.A. Singgih Djojo Adhiningrat (1903).
       Kartini banyak membaca surat kabar Semarang De Locomotief yang diasuh Pieter Brooshooft, ia juga menerima leestrommel (paket majalah yang diedarkan toko buku kepada langganan). Di antaranya terdapat majalah kebudayaan dan ilmu pengetahuan yang cukup berat, juga ada majalah wanita Belanda De Hollandsche Lelie. Kartini pun kemudian beberapa kali mengirimkan tulisannya dan dimuat di De Hollandsche Lelie. Dari surat-suratnya tampak Kartini membaca apa saja dengan penuh perhatian, sambil membuat catatan-catatan. Kadang-kadang Kartini menyebut salah satu karangan atau mengutip beberapa kalimat. Perhatiannya tidak hanya semata-mata soal emansipasi wanita, tapi juga masalah sosial umum.
       Kartini melihat perjuangan wanita agar memperoleh kebebasan, otonomi dan persamaan hukum sebagai bagian dari gerakan yang lebih luas. Di antara buku yang dibaca Kartini sebelum berumur 20, terdapat judul Max Havelaar dan Surat-Surat Cinta karya Multatuli, yang pada November 1901 sudah dibacanya dua kali. Lalu De Stille Kraacht (Kekuatan Gaib) karya Louis Coperus. Kemudian karya Van Eeden yang bermutu tinggi, karya Augusta de Witt yang sedang-sedang saja, roman-feminis karya Nyonya Goekoop de-Jong Van Beek dan sebuah roman anti-perang karangan Berta Von Suttner, Die Waffen Nieder (Letakkan Senjata). Semuanya berbahasa Belanda.
       Oleh orangtuanya, Kartini disuruh menikah dengan bupati Rembang, K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, yang sudah pernah memiliki tiga istri. Kartini menikah pada tanggal 12 November 1903. Suaminya mengerti keinginan Kartini dan Kartini diberi kebebasan dan didukung mendirikan sekolah wanita di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor kabupaten Rembang, atau di sebuah bangunan yang kini digunakan sebagai Gedung Pramuka.

Sekolah Kartini (Kartinischool), 1918.
          Anak pertama dan sekaligus terakhirnya, R.M. Soesalit, lahir pada tanggal 13 September 1904. Beberapa hari kemudian, 17 September 1904, Kartini meninggal pada usia 25 tahun. Kartini dimakamkan di Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Rembang.
          Berkat kegigihannya Kartini, kemudian didirikan Sekolah Wanita oleh Yayasan Kartini di Semarang pada 1912, dan kemudian di Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon dan daerah lainnya. Nama sekolah tersebut adalah "Sekolah Kartini". Yayasan Kartini ini didirikan oleh keluarga Van Deventer, seorang tokoh Politik Etis.

Kamis, 03 Februari 2011


Bambang Pamungkas (lahir di Salatiga, Jawa Tengah, 10 Juni 1980; umur 29 tahun) adalah seorang pemain sepak bola Indonesia. Saat ini dia bermain untuk Persija Jakarta di Divisi Utama Liga Indonesia dan pernah mewakili negara dalam timnas sepak bola Indonesia. Dia biasa berposisi sebagai penyerang.

Meskipun tidak terlalu tinggi (171 cm), Bambang mempunyai lompatan yang tinggi dan tandukan yang akurat. Salah satu pemain yang dikaguminya adalah rekannya dalam tim nasional, Kurniawan Dwi Yulianto.

Saat masih bermain dalam tim remaja Jawa Tengah, ia pernah dinobatkan sebagai pemain terbaik Piala Haornas, sebuah kejuaraan tingkat remaja. Bambang juga pernah menjadi pencetak gol terbanyak untuk skuad Indonesia di Piala Asia U-19 Grup V, dengan 7 gol.

Penampilan pertama Bambang bersama timnas senior adalah pada 2 Juli 1999 dalam pertandingan persahabatan melawan Lituania. Bambang, yang saat itu baru berusia 18 tahun, berhasil menciptakan sebuah gol dalam pertandingan yang berakhir seri 2-2.

BAMBANG PAMUNGKAS

Bambang Pamungkas

Profil

Nama: Bambang Pamungkas Tanggal lahir: 10 Jun 1980
Status: Menikah Zodiak: Gemini
Lahir di: Getas, Jawa Tengah
Pemain bola hebat tak mesti lahir dari sekolah bola moderen. Dia juga bisa lahir dari hutan karet. Itulah Bambang Pamungkas. Bakat ajaib telah membawa penyerang dengan tendangan geledek ini dari hutan karet ke kancah nasional.

Sebagai penyerang di Persija, selain memiliki kecepatan dan tendangan geledek, Bambang mempunyai lompatan yang tinggi dan tandukan yang akurat. Saat masih bermain dalam tim remaja Jawa Tengah, ia pernah dinobatkan sebagai pemain terbaik Piala Haornas, sebuah kejuaraan tingkat remaja. Bambang juga pernah menjadi pencetak gol terbanyak untuk skuad Indonesia di Piala Asia U-19 Grup V, dengan 7 gol.

Penampilan pertama Bambang bersama timnas senior adalah pada 2 Juli 1999 dalam pertandingan persahabatan melawan Lituania. Bambang, yang saat itu baru berusia 18 tahun, berhasil menciptakan sebuah gol dalam pertandingan yang berakhir seri 2-2.

Bambang dikenal aktif di situs mikroblogging Twitter, lewat akun @bepe20 dia memiliki 42.927 follower. Dia juga rajin membalas pertanyaan atau tanggapan dari para fans. Dalam bio-nya dia menulis selalu berusaha untuk berpikir positif, percaya diri dan optimis. Sayangnya dalam postingan terakhirnya pada akhir Oktober 2010 dia menulis: This account will be deactivated untill the time that can not be determined..

Bambang kecil tumbuh dan besar di Desa Getas, Jawa Tengah. Ayahnya bernama Misranto. Ibunya: Suriptinah. Bambang anak keenam dari tujuh bersaudara Tiga wanita, empat pria. Sebenarnya, Misranto dan Suriptinah berharap Bambang menjadi anak terakhir. Oleh sebab itu, ia diberi nama Bambang Pamungkas. "Kalau orang Jawa bilang, Bambang itu anak laki-laki. Pamungkas itu terakhir," jelas Bambang.

Dibandingkan dengan nama kakak-kakaknya, Bambang punya nama yang sama sekali berbeda. Semua nama kakak laki-lakinya memiliki unsur Agus. Contohnya Tri Agus Prasetyo. Sementara nama kakak perempuannya memiliki unsur Wati. Tapi prediksi orangtua Bambang meleset. Di kemudian hari Suriptinah melahirkan adik untuk Bambang.

Sehari-harinya, ayah Bambang bekerja sebagai pegawai PT Perkebunan Nusantara IX di perkebunan karet. Untuk mengisi waktu senggang, Misranto melatih sepakbola untuk klub di PTPN IX. Kebetulan, para direksi PTPN IX sangat menyukai olahraga. Di lingkungan kantor PTPN IX pun dibangun lapangan sepakbola dan voli.

Setiap kali Misranto melatih, Bambang kecil selalu ikut menyaksikan. Apalagi lapangannya tak terlalu jauh dari rumah Bambang. Lama kelamaan demam sepakbola menular ke Bambang. Itu juga tak terlepas dari pengaruh kakak-kakaknya. Tiga kakak laki-lakinya sempat menggeluti kulit bundar. Salah satunya bernama Tri Agus Prasetyo yang pernah ikut Pra-PON di Jawa Tengah. Namun hanya Bambang yang akhirnya merumput secara serius.

Jika Misranto membebaskan Bambang memilih jalan hidupnya, beda halnya dengan Suriptinah. Ibu Bambang ini tidak senang anaknya jadi atlet. Alasannya, nilai sekolah Bambang di SD bisa dibilang cemerlang. Ia jadi langganan ranking 1. Prestasi itu membuat Bambang diganjar beasiswa dari PTPN IX sejak kelas 1 sampai kelas 6 SD.

Minggu, 23 Januari 2011

         











Raden Adjeng Kartini (lahir di Jepara, Jawa Tengah, 21 April 1879 – meninggal di Rembang, Jawa Tengah, 17 September 1904 pada umur 25 tahun) atau sebenarnya lebih tepat disebut Raden Ayu Kartini[1] adalah seorang tokoh Jawa dan Pahlawan Nasional Indonesia. Kartini dikenal sebagai pelopor kebangkitan perempuan pribumi.

       Raden Adjeng Kartini adalah seseorang dari kalangan priyayi atau kelas bangsawan Jawa, putri Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, bupati Jepara. Ia adalah putri dari istri pertama, tetapi bukan istri utama. Ibunya bernama M.A. Ngasirah, putri dari Nyai Haji Siti Aminah dan Kyai Haji Madirono, seorang guru agama di Telukawur, Jepara.

          Ayah Kartini pada mulanya adalah seorang wedana di Mayong. Peraturan kolonial waktu itu mengharuskan seorang bupati beristerikan seorang bangsawan. Karena M.A. Ngasirah bukanlah bangsawan tinggi[2], maka ayahnya menikah lagi dengan Raden Adjeng Woerjan (Moerjam), keturunan langsung Raja Madura. Setelah perkawinan itu, maka ayah Kartini diangkat menjadi bupati di Jepara menggantikan kedudukan ayah kandung R.A. Woerjan, R.A.A. Tjitrowikromo.

          Kartini adalah anak ke-5 dari 11 bersaudara kandung dan tiri. Dari kesemua saudara sekandung, Kartini adalah anak perempuan tertua. Kakeknya, Pangeran Ario Tjondronegoro IV, diangkat bupati dalam usia 25 tahun. Kakak Kartini, Sosrokartono, adalah seorang yang pintar dalam bidang bahasa. Sampai usia 12 tahun, Kartini diperbolehkan bersekolah di ELS (Europese Lagere School).

         Di sini antara lain Kartini belajar bahasa Belanda. Tetapi setelah usia 12 tahun, ia harus tinggal di rumah karena sudah bisa dipingit.
Karena Kartini bisa berbahasa Belanda, maka di rumah ia mulai belajar sendiri dan menulis surat kepada teman-teman korespondensi yang berasal dari Belanda. Salah satunya adalah Rosa Abendanon yang banyak mendukungnya. Dari buku-buku, koran, dan majalah Eropa, Kartini tertarik pada kemajuan berpikir perempuan Eropa. Timbul keinginannya untuk memajukan perempuan pribumi, karena ia melihat bahwa perempuan pribumi berada pada status sosial yang rendah.


Kartini bersama suaminya, R.M.A.A. Singgih Djojo Adhiningrat (1903).
 
 
           Kartini banyak membaca surat kabar Semarang De Locomotief yang diasuh Pieter Brooshooft, ia juga menerima leestrommel (paket majalah yang diedarkan toko buku kepada langganan). Di antaranya terdapat majalah kebudayaan dan ilmu pengetahuan yang cukup berat, juga ada majalah wanita Belanda De Hollandsche Lelie. Kartini pun kemudian beberapa kali mengirimkan tulisannya dan dimuat di De Hollandsche Lelie. Dari surat-suratnya tampak Kartini membaca apa saja dengan penuh perhatian, sambil membuat catatan-catatan. Kadang-kadang Kartini menyebut salah satu karangan atau mengutip beberapa kalimat. Perhatiannya tidak hanya semata-mata soal emansipasi wanita, tapi juga masalah sosial umum..

        Kartini melihat perjuangan wanita agar memperoleh kebebasan, otonomi dan persamaan hukum sebagai bagian dari gerakan yang lebih luas. Di antara buku yang dibaca Kartini sebelum berumur 20, terdapat judul Max Havelaar dan Surat-Surat Cinta karya Multatuli, yang pada November 1901 sudah dibacanya dua kali. Lalu De Stille Kraacht (Kekuatan Gaib) karya Louis Coperus. Kemudian karya Van Eeden yang bermutu tinggi, karya Augusta de Witt yang sedang-sedang saja, roman-feminis karya Nyonya Goekoop de-Jong Van Beek dan sebuah roman anti-perang karangan Berta Von Suttner, Die Waffen Nieder (Letakkan Senjata). Semuanya berbahasa Belanda.

        Oleh orangtuanya, Kartini disuruh menikah dengan bupati Rembang, K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, yang sudah pernah memiliki tiga istri. Kartini menikah pada tanggal 12 November 1903. Suaminya mengerti keinginan Kartini dan Kartini diberi kebebasan dan didukung mendirikan sekolah wanita di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor kabupaten Rembang, atau di sebuah bangunan yang kini digunakan sebagai Gedung Pramuka.
Sekolah Kartini (Kartinischool), 1918.
 
           Anak pertama dan sekaligus terakhirnya, R.M. Soesalit, lahir pada tanggal 13 September 1904. Beberapa hari kemudian, 17 September 1904, Kartini meninggal pada usia 25 tahun. Kartini dimakamkan di Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Rembang.

          Berkat kegigihannya Kartini, kemudian didirikan Sekolah Wanita oleh Yayasan Kartini di Semarang pada 1912, dan kemudian di Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon dan daerah lainnya. Nama sekolah tersebut adalah "Sekolah Kartini". Yayasan Kartini ini didirikan oleh keluarga Van Deventer, seorang tokoh Politik Etis.

Minggu, 28 November 2010

ADIWIYATA SMP NEGERI 26

ADIWIYATA adalah program terhadap sekolah yang mewujudkan sekolah berwawasan dan peduli lingkungan
Apa Itu ADIWIYATA ?

Adiwiyata mempunyai pengertian atau makna: Tempat yang baik dan ideal dimana dapat diperoleh segala ilmu pengetahuan dan berbagai norma serta etika yang dapat menjadi dasar manusia menuju terciptanya kesejahteraan hidup dan menuju kepada cita-cita pembangunan berkelanjutan.

TUJUAN PROGRAM ADIWIYATA
Menciptakan kondisi yang baik bagi sekolah untuk menjadi tempat pembelajaran dan penyadaran warga sekolah, sehingga di kemudian hari warga sekolah tersebut dapat turut bertanggung jawab dalam upaya-upaya penyelamatan lingkungan hidup dan pembangunan berINDIKATOR DAN KRITERIA PROGRAM ADIWIYATA

A. Pengembangan Kebijakan Sekolah Peduli dan Berbudaya Lingkungan

            Pengembangan kebijakan sekolah tersebut antara lain:
1. Visi dan misi sekolah yang peduli dan berbudaya lingkungan.
2. Kebijakan sekolah dalam mengembangkan pembelajaran pendidikan lingkungan hidup.
3. Kebijakan peningkatan kapasitas sumber daya manusia (tenaga kependidikan dan
non-kependidikan) di bidang pendidikan lingkungan hidup.
4. Kebijakan sekolah dalam upaya penghematan sumber daya alam.
5. Kebijakan sekolah yang mendukung terciptanya lingkungan s e k o l a h yang bersih dan sehat.
6. Kebijakan sekolah untuk pengalokasian dan penggunaan dana bagi kegiatan yang terkait dengan
masalah lingkungan hidup.
kelanjutan.


B. Pengembangan Kurikulum Berbasis Lingkungan
            Pengembangan kurikulum tersebut dapat dilakukan antara lain:
1. Pengembangan model pembelajaran lintas mata pelajaran.
2. Penggalian dan pengembangan materi dan persoalan lingkungan hidup yang ada di masyarakat sekitar.
3. Pengembangan metode belajar berbasis lingkungan dan budaya.
4. Pengembangan kegiatan kurikuler untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran siswa tentang lingkungan hidup.

C. Pengembangan Kegiatan Berbasis Partisipatif
Kegiatan-kegiatan tersebutantara lain:
1. Menciptakan kegiatan ekstra kurikuler/kurikuler di bidang lingkungan hidup berbasis patisipatif di sekolah.
2. Mengikuti kegiatan aksi lingkungan hidup yang dilakukan oleh pihak luar.
3. Membangun kegiatan kemitraan atau memprakarsai pengembangan pendidikan lingkungan hidup di sekolah.

D. Pengelolaan dan atau Pengembangan Sarana Pendukung Sekolah
Dalam mewujudkan sekolah yang peduli dan berbudaya lingkungan perlu didukung sarana dan prasarana yang mencerminkan upaya pengelolaan lingkungan hidup, antara lain meliputi:

1. Pengembangan fungsi sarana pendukung sekolah yang ada untuk pendidikan lingkungan hidup.
2. Peningkatan kualitas penge-lolaan lingkungan di dalam dan di luar kawasan sekolah.
3. Penghematan sumberdaya alam (listrik, air, dan ATK).
4. Peningkatan kualitas pelayanan makanan sehat.
5. Pengembangan sistem pengelolaan sampah.

TUNAS HIJAU SMP NEGERI 26 Surabaya

SMPN 26 Terus Bergiat Menjadi Sekolah Berbudaya Lingkungan Hidup
Surabaya- Adinda, siswa kelas 7A SMP Negeri 26 Surabaya mengusulkan gerakan membawa tas belanja dari kain atau tas sekolah bagi warga sekolah saat berbelanja. Usulan Adinda ini disampaikan di depan 40-an siswa sekolahnya yang mengikuti pembinaan lingkungan hidup bersama Tunas Hijau, Selasa (15/6). “Penggunaan kantong plastik yang cenderung sekali pakai dan menjadi menjadi sampah seharusnya dikurangi dengan membawa tas belanja sendiri yang lebih awet. Bila ini menjadi gerakan pasti akan mengurangi jumlah sampah plastik yang dihasilkan,” usul Adinda.

Berbeda dengan usul Adinda, Fitria, siswa kelas 8D, mengusulkan ada peraturan yang mengharuskan seluruh warga sekolah melepas sepatu ketika masuk kamar mandi untuk mengurangi pemakaian air yang berlebihan. Sementara itu, Fahrul, siswa kelas 8H, mengusulkan program 5 menit bersih-bersih sampah sebelum jam pelajaran pertama atau sebelum pulang sekolah. “Program ini untuk memastikan bahwa sekolah selalu dalam keadaan bersih,” ungkap Fahrul.

Sementara itu, setelah pembinaan lingkungan hidup bersama siswa anggota Tim Hijau SMP Negeri 26 Surabaya, Tunas Hijau melanjutkan sesi sharing dengan beberapa orang tim guru lingkungan hidup sekolah. Ada tiga orang guru yang mengikuti sharing itu. Mereka adalah Eko Widayani, Sri Murwati dan Titik Yusfrianti. “Hasil dari pelaksanaan program lingkungan hidup di sekolah ini sangat nampak. Tidak lagi banyak sampah berserakan di sekolah ini seperti beberapa tahun sebelumnya,” kata aktivis senior Tunas Hijau Mochamad Zamroni mengawali sharing itu.

Komitmen pimpinan SMP Negeri 26 pada lingkungan hidup sepertinya sudah bagus, terbukti dengan beberapa kebijakan lingkungan hidup yang dibuat dalam setahun terakhir. “Kebijakan itu seperti keharusan untuk mematikan mesin sepeda motor mulai gerbang sekolah dan adanya aturan yang mengharuskan siswa membawa piring dan gelas sendiri ke sekolah untuk mengurangi sampah plastik yang dihasilkan. Ada juga kantin apung sekolah yang akan menerapkan prinsip eco canteen, yang saat ini dalam penyelesaian fisik bangunannya,” kata Zamroni kepada ketiga guru lingkungan hidup SMP Negeri 26 Surabaya.

Disampaikan Zamroni bahwa untuk penerapan pendidikan lingkungan hidup berkelanjutan dan mewujudkan sekolah berbudaya lingkungan hidup, maka dibutuhkan partisipasi aktif dari seluruh warga sekolah. “Tidak boleh hanya tujuh orang guru yang ditunjuk mengurusi lingkungan hidup saja yang berpartisipasi. Semua guru, semua karyawan, semua siswa dan orang tua harus berpartisipasi aktif pada program lingkungan hidup. Prinsip berkelanjutan juga harus diterapkan,” tambah presiden Tunas Hijau ini. (roni)